BNPT: Terorisme bukan Kejahatan Baru

Kepala Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius

Kepala Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius

BNPT: Terorisme bukan Kejahatan Baru
Jakarta | kreasidutadamai,id
Terorisme bukanlah kejahatan baru. Ironisnya, sampai saat ini belum ada definisi pasti untuk menjelaskan kejahatan terorisme.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius, terorisme melibatkan sudut ilmu yang menjadikan terorisme itu bukan hanya sebagai kejahatan dalam kacamata hukum pidana. Namun, juga memiliki sisi politis, ekonomi, dan kepentingan yang memiliki satu tujuan.

“Target aksi teror dipilih, bekerja secara rahasia, dan tujuannya publisitas,” kata Suhardi saat workshop Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di Lumire Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (25/10).

Suhardi menyebut, teror dengan meledakkan bom terjadi hingga 140 kali di era Orde Baru. Tak hanya itu, bom Bali I membuat Indonesia menjadi lahan subur sejumlah kejahatan terorisme dalam pandangan internasional. Namun, penegakan hukum terorisme saat itu belum maksimal.

“Merespon ini, pemerintah kemudian mengeluarkan Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang kemudian menjadi landasan penetapan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme,” kata Suhardi.

Lagi-lagi, penegakan hukum yang belum maksimal membuat UU Terorisme kembali digodok dan direvisi. “Revisi undang-undang memiliki subtansi besar seperti masalah pencegahan, penindakan, dan rehabilitasi dan kompensasi terhadap korban dan pelaku,” jelasnya.

Respond For " BNPT: Terorisme bukan Kejahatan Baru "

Tinggalkan Balasan