BNPT Miliki Catatan Keterlibatan Siyono Dalam Kelompok Radikal

Jakarta | kreasi.dutadamai

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Tito Karnavian memiliki catatan terduga teroris asal Klaten, Jawa Tengah, Siyono yang tewas saat melakukan perlawanan terhadap polisi. Keterlibatan Siyono berdasarkan dari bukti-bukti yang sudah didapat Densus dari 13 tersangka teroris.

“Dalam catatan Densus dia terlibat dalam jaringan yang sudah ada, Sekitar 13 orang yang menyebut nama dia termasuk pemegang senjata,” kata Tito di Mabes Polri, Selasa (12/4).
Penjelasan mantan Kapala Densus 88 itu menjawab keraguan publik mengenai benar atau tidak Siyono terlibat kasus terorisme.

Sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan mengungkapkan Siyono menjabat staf inti dalam organisasi Neo Jamaah Islamiah (JI). Hal itu diketahui setelah Polri melakukan penelusuran terhadap tiga orang rekan Siyono yang terlebih dahulu ditangkap yaitu AW, BR dan DN.

“Dia adalah Kepala Staf Tholiah Bitonah di Neo JI,” ujar Anton dalam konferensi pers di Divisi Humas Mabes Polri, Selasa (5/4).

Anton membeberkan, organisasi Neo JI ini menyimpan senjata dalam jumlah yang cukup banyak. Pergerakan mereka terindikasi melanjutkan Laskar Negara Islam Indonesia (NII).
Dari keterangan yang diperoleh dari ketiga rekan Siyono, sambung Anton, Neo JI juga menyimpan butiran peluru dan granat.
“Telah disita puluhan senjata, ribuan peluru dan beberapa granat. Ada mesin bubut untuk pembuat senjata rakitan. Kita temukan bunker juga di Tangerang,” bebernya.

Dijelaskannya, Siyono juga diketahui pernah menggelar rapat internal Neo JI di Tawangmangu, Semarang untuk mengembangkan pergerakan kelompok radikal. Menurutnya aktivitas tentu tidak dibiarkan untuk terus berlanjut, mengingat Neo JI bukan gerakan berbasis agama.
“Jadi saya ingin klarifikasi gerakan ini bukan gerakan agama, bukan gerakan Islam. Jihadis ini sebagaimana dikatakan MUI bukan jihad yang sejalan dengan Islam. Densus bukan salah tangkap, tapi kita menangkap Siyono berdasarkan keterangan tiga saksi yakni AW alias TG, BR dan DN,” terangnya.

Anton menambahkan, penangkapan terhadap Siyono bukan merupakan keputusan yang salah. Hal ini dibuktikan dengan status warga asal Klaten itu sebagai tersangka sebelum dinyatakan meninggal dunia. Dua alat bukti juga sudah terpenuhi sebelum menetapkan Siyono sebagai tersangka.
“Alat buktinya saksi tiga orang dan senjata,” ujarnya.
Seperti diketahui, Siyono meninggal dunia karena melakukan perlawanan terhadap anggota Densus 88 pada 11 Maret 2016. Saat itu, Densus tengah melakukan pengembangan untuk mencari senjata yang dititipkan kepada seseorang di daerah Prambanan, Yogyakarta.

Respond For " BNPT Miliki Catatan Keterlibatan Siyono Dalam Kelompok Radikal "

Tinggalkan Balasan